Faktor dan Penyebab Kenapa Orang Suka Berhutang

Masalah hutang menghutang sebenarnya sudah menjadi bagian dari tradisi atau kebiasaan masyarakat. Dimanapun tempatnya baik di desa maupun di kota kebiasaan yang satu ini memang sulit dilepaskan. Dari segi waktu pun kegiatan hutang menghutang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Maklum saja sebab manusia pada dasarnya tidak bisa lepas dari berbagai kebutuhan hidup seperti sandang, pangan, dan papan. Dampak hutang bisa sangat merugikan bukan hanya dalam segi ekonomi. Berhutang juga bisa menimbulkan dampak sosial seperti putusnya ikatan persahabatan bahkan kekerabatan. Selain itu hutang juga bisa berdampak pada aspek psikologi seseorang seperti depresi yang berujung pada stress dan bunuh diri.

Berhutang bisa dikatakan baik apabila dilakukan secara proporsional dan akan berdampak buruk jika dilakukan diluar kemampuan. Yang dimaksud proporsional disini adalah berhutang yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan. Jadi bukan berhutang yang dilakukan atas dasar keinginan saja. Ada perbedaan mendasar antara kebutuhan dan keinginan. Yang dinamakan kebutuhan adalah hal hal yang harus dipenuhi dan akan berpengaruh terhadap hidup bila tidak terpenuhi. Adapun keinginan adalah hal-hal yang diinginkan dan tidak akan terlalu berpengaruh pada hidup jika tidak terpenuhi. Salah satu faktor yang bisa membawa seseorang masuk pada lingkaran hutang yaitu kebiasan berjudi, baik yang konvensional maupun yang modern seperti judi online.  Selain berjudi ada beberapa faktor lain yang akan dijelaskan di bawah ini.

Kurang Mampu Mengatur Keuangan

Mengatur keuangan sebenarnya berkaitan dengan sikap dan gaya hidup. Pencatatan yang baik untuk semua kebutuhan akan memungkinkan orang untuk hidup lebih bijak. Catat semua hal  baik berupa barang maupun jasa yang akan kita beli dan pakai dalam sebulan. Dan satu hal yang perlu diingat adalah batasan menggunakan uang yang akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan. Kuncinya adalah memprioritaskan kebutuhan dibanding keinginan yang tak berujung.

Semua orang mampu untuk tidak berhutang andaikan mereka mau. jadi poin pentingnya adalah ketidakmauan bukan ketidakmampuan. Siapapun mampu bila diniatkan dengan kuat dan dijalankan penuh tekad. Dan sayangnya kebanyakan orang memilih tidak mau hingga akhirnya berujung ketidakmampuan untuk mendisiplinkan diri dan uangnya.

Gaya Hidup Konsumtif

Era postmodern ditandai dengan hadirnya berbagai usaha di bidang jasa yang tumbuh bak jamur di musim penghujan. Saat ini perusahaan bukan hanya terpusat di sektor barang. Adanya berbagai jasa untuk berjualan, berpergian, sampai memesan makanan dan minuman mempermudah kita untuk memenuhi nafsu dan keinginan. Perkembangan teknologi turut memicu perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Dan tanpa disadari kita pun termakan oleh kemudahan  berbagai layanan jasa yang disediakan. Pundi-pundi rupiah yang didapatkan dengan susah payah akan habis bila diperbudak oleh perkembangan teknologi. dan tentu saja bila tidak disikapi dengan baik maka boleh jadi yang tertinggal dalam saku kita hanya setumpuk kertas tagihan.

Perilaku konsumtif tentu sangat tidak sehat bagi keuangan. Jika sudah terjerumus masuk dalam pola hidup konsumerisme, maka peluang memiliki hutang sangatlah besar. diakui atau tidak manusia di era sekarang memang digiring untuk hidup lebih mewah, trendi, dan pamer-pameran. Salah satu peneliti ilmu sosial Jean Baudrillard secara tegas menyatakan bahwa manusia hidup di dalam simulacrum yang sengaja diciptakan para pengusaha. Simulacrum sendiri bisa diartikan sebagai citra citra yang sengaja dibentuk untuk menarik hasrat konsumen. Misalkan jika seseorang memakai jam bermerk mahal maka ia akan diidentikan dengan kalangan elit. Dan prestise yang didapat adalah pemantik mengapa orang bernafsu membeli barang-barang diluar kemampuan finansialnya.

Judi Online

Jika ingin melihat betapa mengerikannya hidup dengan hutang maka tengoklah penjudi. Tidak heran bila judi dikategorikan perbuatan terlarang oleh agama dan budaya. finansial penjudi ditentukan oleh faktor keberuntungan meskipun terlihat sangat menghasilkan. Judi memang dapat menghasilkan jika menang. Jika keadaan sebaliknya maka yang terjadi adalah keuangan yang terpuruk, menghutang dalam jumlah besar, dan menunggu kematian karena depresi penuh tekanan.

Saat ini berjudi tidak lagi memerlukan jarak yang berdekatan. Teknologi sudah menghapus batas-batas territorial sehingga antara seseorang di suatu daerah bisa berjudi dengan seseorang di daerah lain. Berkacalah pada keadaan finansial penjudi dadu online. Sekalipun terlihat menguntungkan,   dibalik itu ada dampak terlilit hutang yang berkepanjangan

Faktor dan Penyebab Kenapa Orang Suka Berhutang